Entrepreneurship Pengolahan Fermentasi buah Pace, Sirsak dan Nanas”

Purwodadi – SMP Muhammadiyah Plus Purwodadi menyelenggarakan kegiatan entrepreneurship bertajuk “Pengolahan Fermentasi Buah Pace, Sirsak, dan Nanas” pada Senin–Selasa, 26–27 Januari 2026. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh siswa dengan sistem pembagian tugas per kelas, di mana setiap kelas memproduksi fermentasi dari total bahan sebanyak 5 kilogram buah dengan pendampingan dua guru atau pembina.
Program tersebut merupakan bagian dari penguatan pembelajaran berbasis praktik yang terintegrasi dengan kurikulum kokurikuler di sekolah. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya mendapatkan pemahaman teori tentang proses fermentasi, tetapi juga terlibat langsung dalam pengolahan bahan, pengukuran komposisi, hingga tahap pengemasan produk.
Sejak hari pertama, para siswa dibagi ke dalam kelompok sesuai kelas masing-masing. Setiap kelompok menyiapkan buah pace, sirsak, dan nanas yang telah dipilih dengan standar kualitas tertentu. Buah dicuci, dipotong, dan ditimbang sesuai kebutuhan sebelum dimasukkan ke dalam wadah fermentasi. Proses ini dilakukan dengan pengawasan dua pendamping di setiap kelas untuk memastikan kebersihan, ketepatan prosedur, serta keselamatan kerja.
Pendamping kelas memberikan arahan mengenai teknik dasar fermentasi, termasuk penambahan bahan pendukung, pengaturan waktu, serta penyimpanan yang tepat. Selain itu, siswa juga diajak memahami manfaat fermentasi sebagai salah satu metode pengolahan pangan yang dapat meningkatkan nilai guna dan nilai jual buah-buahan lokal. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan teknis, tetapi juga menanamkan pola pikir kewirausahaan sejak dini.
Kepala SMP Muhammadiyah Plus Purwodadi dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan pengolahan fermentasi buah merupakan bentuk realisasi dan penguatan program entrepreneur di sekolah. Menurutnya, sekolah memiliki tanggung jawab untuk membekali siswa dengan keterampilan hidup (life skills) yang relevan dengan kebutuhan masa depan. “Pengolahan fermentasi buah ini adalah salah satu upaya konkret sekolah dalam menanamkan jiwa wirausaha kepada siswa. Mereka belajar bahwa bahan sederhana di sekitar kita dapat diolah menjadi produk yang bernilai dan bermanfaat,” ujarnya.
Ia juga menambahkan bahwa kegiatan tersebut dirancang sebagai produk unggulan sekolah yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan. Produk fermentasi buah diharapkan menjadi ciri khas sekolah dalam bidang kewirausahaan sekaligus media pembelajaran yang aplikatif. Dengan adanya program ini, siswa didorong untuk lebih kreatif, inovatif, dan mandiri dalam memanfaatkan potensi lingkungan sekitar.
Selain aspek kewirausahaan, kegiatan ini juga berfungsi untuk menunjang program kokurikuler di sekolah. Praktik pengolahan fermentasi buah diintegrasikan dengan mata pelajaran terkait, seperti Ilmu Pengetahuan Alam, Prakarya, dan Pendidikan Pancasila. Siswa belajar mengenai proses biokimia sederhana dalam fermentasi, pentingnya sanitasi dalam pengolahan pangan, serta nilai kerja sama dalam kelompok.
Selama dua hari pelaksanaan, suasana sekolah tampak lebih aktif dan dinamis. Setiap kelas menunjukkan semangat dan antusiasme dalam mengikuti tahapan kegiatan. Para siswa saling berbagi tugas, mulai dari menyiapkan bahan, mencatat proses, hingga mendiskusikan hasil kerja mereka. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran melalui praktik langsung mampu meningkatkan partisipasi dan motivasi belajar siswa.
Guru pendamping menilai kegiatan ini sangat efektif untuk melatih tanggung jawab dan disiplin siswa. Dengan target produksi 5 kilogram buah per kelas, siswa belajar mengatur waktu dan sumber daya yang tersedia. Mereka juga dilatih untuk bekerja sesuai prosedur serta menghargai hasil kerja kelompok.
Pentingnya kegiatan praktik pengolahan fermentasi buah juga terlihat dari dampaknya terhadap pemahaman siswa tentang konsep produksi dan pemasaran. Melalui kegiatan ini, siswa diperkenalkan pada tahapan awal dalam dunia usaha, mulai dari pemilihan bahan baku, proses produksi, hingga kemungkinan pengemasan dan promosi produk. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menanamkan teori kewirausahaan, tetapi juga memberikan pengalaman nyata yang dapat menjadi bekal di masa depan.
Pihak sekolah berharap kegiatan ini dapat terus dikembangkan dan menjadi agenda rutin. Ke depan, produk fermentasi buah yang dihasilkan diharapkan dapat dipamerkan dalam kegiatan sekolah maupun diproduksi dalam skala kecil sebagai bagian dari unit usaha sekolah. Hal ini sejalan dengan visi SMP Muhammadiyah Plus Purwodadi untuk mencetak generasi yang berkarakter, terampil, dan berjiwa entrepreneur.
Dengan terselenggaranya kegiatan entrepreneurship pengolahan fermentasi buah pace, sirsak, dan nanas ini, SMP Muhammadiyah Plus Purwodadi menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna. Melalui praktik langsung, siswa tidak hanya belajar tentang proses fermentasi, tetapi juga tentang kerja keras, kerja sama, serta peluang usaha yang dapat dikembangkan dari potensi lokal. Program ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam membangun budaya wirausaha di lingkungan sekolah.




